Sekolah Kepemimpinan Nasional (SKN) 2025 yang digelar di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMPVSB), Sleman, DI Yogyakarta, pada Sabtu (15/11), menghadirkan dua narasumber dari tingkat DPP: Ahmad Labib, M.H.I. (Partai Golkar) dan Dr. Benny K. Harman (Partai Demokrat). Kegiatan ini mengangkat tema “Dinamika Kepemimpinan Internal Partai Politik: Pengalaman Praktis di Partai Demokrat dan Partai Golkar.”
Dalam sesi pertama, Ahmad Labib memaparkan sejarah dan dinamika internal Partai Golkar yang sejak awal disebut bersifat inklusif, representatif, serta memiliki struktur kepemimpinan yang terbuka. Ia menegaskan bahwa keberadaan faksi dan kompetisi internal menjadi ciri khas Golkar, namun dapat dikelola secara efektif melalui konsolidasi organisasi.
“Di Golkar, rekrutmen kepemimpinan itu terbuka. Karena itu, setiap kader harus punya seribu nyawa agar mampu bertahan dalam dinamika partai,” ujar Ahmad Labib. Ia menambahkan, daya tahan partai politik bergantung pada moralitas umum dan keberpihakan pada rakyat.
Sementara itu, Dr. Benny K. Harman menyoroti posisi strategis partai politik dalam sistem demokrasi Indonesia. “Partai politik adalah tulang punggung pemerintahan; jika dikuasai oligarki, maka ia tidak akan bertahan lama,” tegasnya.
Benny kemudian mengulas sejarah kelahiran Partai Demokrat pada 2001 yang awalnya didirikan untuk mencalonkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai presiden. Ia menekankan bahwa Partai Demokrat berpegang pada nilai-nilai inklusif, religius, dan pluralis. “Kami adalah politik nilai, bukan politik jumlah. Karena itu, kualitas lebih penting daripada sekadar popularitas,” ujarnya.
Dalam sesi tanya jawab, peserta mengangkat isu seputar rekrutmen kader, dinamika faksi, peluang bagi generasi muda, dan tantangan oligarki politik. Menanggapi hal tersebut, Ahmad Labib mendorong generasi muda untuk aktif berpolitik. “Yang penting jangan gentar masuk partai politik. Kualitas dan kapabilitas tetap menjadi ukuran,” katanya.
Menutup sesi, Dr. Benny mengingatkan bahaya pengaruh uang dalam politik. “Hati-hati dengan kekuatan uang. Ia dapat menggoyahkan nilai-nilai yang menjadi fondasi partai politik,” pesannya.


