Sesi diskusi hari kelima Sekolah Kepemimpinan Nasional (SKN) pada Sabtu (15/11), mengangkat tema “Dinamika Kepemimpinan Internal Partai Politik (Pengalaman PDI Perjuangan)”. Kegiatan yang digelar di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMPVSB) Sleman, Yogyakarta, menghadirkan H. Ganjar Pranowo, S.H., M.IP sebagai narasumber.
Dalam paparannya, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah itu menekankan bahwa dinamika internal partai politik merupakan ruang pembelajaran kepemimpinan yang kompleks. Ganjar memulai sesi dengan pertanyaan reflektif kepada peserta, sebagai bentuk komunikasi dialogis untuk membangun interaksi aktif dalam diskusi.
Ganjar kemudian menceritakan awal keterlibatannya dalam dunia politik yang berangkat dari keberanian untuk masuk langsung ke dalam sistem. Ia mengaku terjun melalui aksi demonstrasi dan keterlibatan dalam gerakan politik sebagai cara memahami dinamika partai secara utuh. “Keterlibatan aktif merupakan fondasi dalam memahami dinamika internal partai,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ganjar menegaskan bahwa partai politik merupakan pilar utama demokrasi. “Tidak ada demokrasi tanpa partai politik. Seperti halnya penulis sejarah, perspektif yang muncul akan ditentukan oleh siapa yang menulisnya,” tuturnya.
Ia juga menyinggung peristiwa 27 Juli 1996 yang menjadi titik penting dalam perjalanan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), yang melahirkan simbol loyalitas terhadap kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Dari pengalaman itu, PDI Perjuangan memperkuat proses kaderisasi untuk membentuk kader yang tidak hanya loyal, tetapi juga cakap. “Kader tidak hanya loyal, namun juga harus memiliki kecakapan. Karena itu saya aktif di berbagai organisasi termasuk MDMC,” jelasnya.
Terkait penguatan kompetensi kader, Ganjar menjelaskan bahwa partai telah merancang sekolah kader dengan berbagai jenjang guna menyiapkan pemimpin masa depan yang matang secara ideologis dan organisatoris. Ia menegaskan pentingnya menanamkan nilai kebangsaan dan penghargaan terhadap keberagaman di tengah masyarakat yang plural.
Sesi tersebut memberikan wawasan mendalam mengenai tantangan kepemimpinan internal partai politik dan proses kaderisasi di Indonesia. Menutup kegiatan, Ganjar menegaskan bahwa kepemimpinan sejati ditandai oleh keberanian, integritas, dan kedisiplinan. “Ketika melihat persoalan, jangan pernah dihindari. Pemimpin harus berani menghadapi, bukan menghindari,” tegasnya.


