Hari kedua pelaksanaan Sekolah Kepemimpinan Nasional (SKN) 2025 yang diselenggarakan oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah berlangsung pada Rabu (12/11) di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMPVSB), Sleman, Yogyakarta. Salah satu sesi penting di hari tersebut diisi oleh Dr. phil. Ridho Al-Hamdi, M.A., Ketua LHKP PP Muhammadiyah, yang menyampaikan materi berjudul “Muhammadiyah dan Politik: Mengurai Perjalanan Panjang Para Pemimpin Muhammadiyah.”
Dalam paparannya, Ridho mengajak para peserta untuk memahami secara lebih mendalam posisi, peran, dan kontribusi Muhammadiyah dalam dinamika politik kebangsaan yang berpijak pada nilai-nilai Islam berkemajuan. Ia menegaskan bahwa perjuangan politik Muhammadiyah tidak semata-mata berkaitan dengan kekuasaan, tetapi berorientasi pada nilai keadilan dan kemaslahatan umat.
Sebagai refleksi, Ridho mengaitkan pembahasannya dengan karya sastra klasik “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis. “Islam tidak berhenti hanya di shalat, tetapi harus hadir memberikan hak bagi orang yang tertindas,” ujarnya. Menurutnya, kisah tersebut menjadi cerminan tentang kegagalan spiritualitas yang terlepas dari tanggung jawab sosial. Pernyataan itu menegaskan bahwa keberagamaan sejati menuntut keterlibatan aktif dalam memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan, sejalan dengan semangat dakwah Muhammadiyah yang bersifat transformatif.
Ridho kemudian menguraikan perjalanan panjang relasi Muhammadiyah dan politik sejak tahun 1912 hingga 2024, yang dibagi menjadi dua fase besar: kesadaran individual (1912–1971) dan kesadaran institusional (1971–2024). Dalam pandangannya, kedua fase tersebut menunjukkan bagaimana Muhammadiyah terus beradaptasi terhadap dinamika nasional tanpa kehilangan jati diri dan prinsip ideologisnya.
Menutup penyampaiannya, Ridho menegaskan prinsip politik Muhammadiyah yang telah menjadi garis kebijakan resmi organisasi. “Muhammadiyah tidak berpolitik praktis, Muhammadiyah independen tanpa terjalin dengan pihak politik mana pun,” tandasnya di akhir sesi.


