• Profil
  • Publikasi
  • Berita
    • Berita Kegiatan
    • Kabar LKHP
    • Opini
  • Program Kerja
  • Mitra
  • Hutan Wakaf
  • Mitra
Lembaga Hikmah & Kebijakan Publik
  • Profil
  • Publikasi
  • Berita
    • Berita Kegiatan
    • Kabar LKHP
    • Opini
  • Program Kerja
  • Mitra
  • Hutan Wakaf
  • Mitra
No Result
View All Result
Lembaga Hikmah & Kebijakan Publik
  • Profil
  • Publikasi
  • Berita
    • Berita Kegiatan
    • Kabar LKHP
    • Opini
  • Program Kerja
  • Mitra
  • Hutan Wakaf
  • Mitra
No Result
View All Result
Lembaga Hikmah & Kebijakan Publik
No Result
View All Result
Home Opini

Survei, Bisnis, dan Kritik Integritas

Adi Hasrul by Adi Hasrul
Februari 18, 2026
in Opini, Publikasi
0
Survei, Bisnis, dan Kritik Integritas
0
SHARES
142
VIEWS
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di WhatsAppBagikan di TelegramBagikan di LinkedIn

Oleh: Ridho Al-Hamdi, Guru Besar Ilmu Politik; Dekan FISIPOL Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Iklim riset termasuk survei di Indonesia memang belum sebaik negara-negara maju lainnya dengan menghasilkan produk riset yang diperhitungkan oleh komunitas internasional. Tentu ini tidak terlepas dari kebijakan nasional dan manajemen riset yang belum mapan mengingat iklim riset yang diciptakan masih menekankan urusan administrasi yang rumit ketimbang substansi riset. Bahkan pencairan dana riset pun sangat terlambat dan peneliti dituntut untuk menggunakan dana pribadi terlebih dahulu dengan jangka waktu laporan riset yang sangat singkat.

Alhasil, peneliti Indonesia mencari jalan pintas agar risetnya selesai meski dengan hasil apa adanya. Belum lagi persoalan buruknya integritas hasil riset yang masih sering dijumpai, plagiarisme yang tidak disadari bahkan disengaja, dan mencari jalan pintas agar terbit di jurnal internasional predator hanya untuk mengejar guru besar.

Sering kali dalam riset, beda metode akan menghasilkan temuan yang berbeda. Sebagai contoh, sebuah riset berjudul “persepsi lelaki beristri tentang poligami” bisa menghasilkan dua kesimpulan berbeda. Peneliti pertama mewawancarai para lelaki dengan “didampingi istrinya” sementara peneliti kedua mewawancarai para lelaki “tanpa didampingi istrinya”. Temuan peneliti pertama bisa menghasilkan: 95% lelaki tidak setuju poligami sementara temuan peneliti kedua memungkinkan mengungkap fakta sebaliknya: 95% lelaki setuju terhadap poligami.

Kedua temuan riset ini tidak ada yang salah. Hanya saja metode mereka berbeda sehingga menghasilkan temuan yang berbeda pula. Karenanya, sebagai pengajar mata kuliah penelitian kualitatif, penulis sering kali menegaskan kepada mahasiswa, bahwa dalam riset itu tidak ada yang salah selama metode yang digunakan sudah tepat. Yang menjadi persoalan adalah integritas dan nilai yang diperjuangkan si peneliti.

 

Menyoal survei Indikator

Akhir-akhir ini publik dihebohkan oleh temuan lembaga survei Indikator yang berjudul “persepsi publik terhadap kinerja presiden, kepercayaan terhadap lembaga negara, dan program makan bergizi gratis (MBG)” dengan periode survei 15-21 Januari 2026. Salah satu hasil temuan yang kontroversial adalah 79,9% publik puas dengan kinerja Prabowo Subianto. Apakah temuan survei ini dari proses yang tepat? Ayo kita bedah.

Ada sejumlah pertanyaan mendasar: Siapa yang mendanai survei ini? Jikalau survei ini didanai mandiri oleh Indikator, apakah benar-benar murni dari dana internal lembaga atau ada cara lain agar publik tidak menganggap survei ini didanai pihak tertentu?

Secara metodologis, masyarakat awam tidak tahu tentang persebaran sampel 1.220 responden tersebut dipilih atas dasar apa? Apakah mereka netral atau para pendukung Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024? Titik desa dan kota yang dipilih ditentukan atas dasar apa? Atau jangan-jangan itu basis utama pendukung Prabowo-Gibran? Ini tidak diungkap dalam profil responden. Profil sampel hanya mengungkap jenis kelamin, persebaran desa-kota, usia, pendidikan, agama, etnis, dan persebaran provinsi.

Hal yang sangat penting dalam survei adalah waktu pengambilan data. Waktu menentukan hasil temuan. Jika survei dilakukan saat psikologi publik kecewa, bisa jadi jawaban mengarah sentimen negatif. Sebaliknya, jika survei dilakukan pada saat situasi publik bahagia, jawaban bisa mengarah pada sentimen positif.

Soal pertanyaan “apakah sejauh ini Ibu/Bapak sangat puas, cukup puas, kurang puas, atau tidak puas sama sekali dengan kerja Presiden Prabowo Subianto?”, mayoritas jawaban responden adalah cukup puas. Muncul pertanyaan: apa standar jawaban disebut “cukup puas” itu? Apakah cukup puas itu benar-benar puas atau malah cenderung ke arah tidak puas? Kata “cukup” bagi masyarakat Indonesia bisa bermaka ganda: belum begitu puas tetapi bisa juga tidak begitu kecewa.

Jika memang demikian, mengapa jawaban cukup puas dan sangat puas digabungkan jadi satu jawaban dengan framing seolah-olah masyarakat puas dengan kinerja Prabowo? Mengapa kok tidak ada jawaban “puas” dalam pilihan jawaban atas pertanyaan tersebut? Pertanyaan tertutup semacam ini seringkali menjebak responden untuk tidak bisa menguraikan secara detail alasan-alasan mereka, apakah puas atau tidak puas.

Inilah sejumlah pertanyaan yang menyisakan keraguan penulis atas integritas survei ini. Tentu publik tidak mau ambil pusing dan tidak akan berdebat panjang tentang metodologi karena publik tidak ingin dibawa pada urusan yang rumit karena hidup mereka saja sudah rumit. Publik cenderung hanya ingin lihat hasil survei saja, bahwa ternyata publik masih puas dengan kinerja Prabowo? Namun, apakah hasil suvei tersebut benar-benar mengonfirmasi fakta kualitatif yang ada di masyarakat? Kata Cak Lontong: Mikir!!!

 

Integritas survei

Di sinilah integritas survei dipertanyakan. Ini bukan soal salah atau benar dalam sebuah survei karena berbagai metodologi dapat dipertanggungjawabkan. Ini soal pertarungan antara kejujuran dan kapitalisme yang dibalut seakan-akan ilmiah padahal tidak. Survei merupakan industri yang laris manis sejak awal era Reformasi. Survei itu pada dasarnya setengah (50 persen) terdiri dari aktivitas ilmiah dan setengahnya lagi (50 persen) berupa kepentingan bisnis. Dia tidak murni kegiatan ilmiah.

Keuntungan bisa gila-gilaan dari industri survei. Bahkan penulis berani mengatakan, penentu arah politik republik ini tidak lagi partai politik atau penguasa, tetapi industri lembaga survei yang berhasil membentuk opini publik. Bahkan sejumlah partai politik pun menentukan calon yang diusung berdasarkan hasil survei. Jika bagus, maju. Jika tidak, mundur, dan ganti atau bergabung pada calon yang lebih populer. Sayangnya lagi, publik percaya begitu saja terhadap hasil survei. Inilah industri kapitalis berjubah ilmiah.

Jikalau kita anggap survei tersebut benar, apakah kita akan menyalahkan fakta inflasi yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat, tingginya angka pengangguran, korupsi dan penguasaan elite tertentu atas bisnis MBG, industri tambang yang merusak alam dan lingkungan? Di sinilah publik harus kritis atas survei yang disajikan.

Di sini pula literasi publik diuji. Dan ternyata, literasi kita memang benar-benar masih lemah. Kita dibawa seakan harus percaya pada industri survei meski terbalik dengan fakta di lapangan. Mikir?

Previous Post

Pengukuhan Lulusan SKN 2025: Muhammadiyah Siapkan Pemimpin Berintegritas

Next Post

Sekolah Paralegal Maluku Utara, Muhammadiyah Dorong Penguatan Advokasi Masyarakat

Next Post
Sekolah Paralegal Maluku Utara Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah

Sekolah Paralegal Maluku Utara, Muhammadiyah Dorong Penguatan Advokasi Masyarakat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Majelis

  • Tarjih dan Tajdid
  • Majelis Tabligh
  • Diktilitbang
  • Dikdasmen dan PNF
  • Pembinaan Kader dan SDI
  • Pembinaan Kesehatan Umum
  • Peminaan Kesejahteraan Sosial
  • Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata
  • Pendayagunaan Wakaf
  • Pemberdayaan Masyarakat
  • Hukum dan HAM
  • Lingkungan Hidup
  • Pustaka dan Informasi

Lembaga

  • Pengembangan Pesantren
  • Pengembangan Cabang Ranting
  • Kajian dan Kemitraan Strategis
  • Pembinaan dan Pengawasan Keuangan
  • Resiliensi Bencana
  • Amil Zakat, Infak dan Sedekah
  • Pengembang UMKM
  • Hikmah dan Kebijakan Publik
  • Seni Budaya
  • Pengembangan Olahraga
  • Hubungan dan Kerjasama Internasional
  • Dakwah Komunitas
  • Pemeriksa Halal dan KHT
  • Pembinaan Haji dan Umrah
  • Bantuan Hukum dan Advokasi Publik

Biro

  • Pengembangan Organisasi
  • Pengelolaan Keuangan
  • Komunikasi dan Pelayanan Umum

Ortom

  • Aisyiyah
  • Pemuda Muhammadiyah
  • Nasyiatul Aisyiyah
  • Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
  • Ikatan Pelajar Muhammadiyah
  • Tapak Suci Putra Muhammadiyah
  • Hizbul Wathon

Wilayah Sumatra

  • Nanggroe Aceh Darussalam
  • Sumatra Utara
  • Sumatra Selatan
  • Sumatra Barat
  • Bengkulu
  • Riau
  • Kepulauan Riau
  • Jambi
  • Bangka Belitung

Wilayah Kalimantan

  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Selatan
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Utara

WIlayah Jawa

  • D.I. Yogyakarta
  • Banten
  • DKI Jakarta
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur

Wilayah Bali &

Kepulauan Nusa Tenggara

  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur

WIlayah Sulawesi

  • Gorontalo
  • Sulawesi Barat
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Utara
  • Sulawesi Tenggara
  • Sulawesi Selatan

WIlayah Maluku dan Papua

  • Maluku Utara
  • Maluku
  • Papua Barat
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Papua Pegunungan
  • Papua Selatan
  • Papua Barat daya

Cabang Istimewa

  • PCIM Kairo Mesir
  • PCIM Iran
  • PCIM Sudan
  • PCIM Belanda
  • PCIM Jerman
  • PCIM United Kingdom
  • PCIM Libya
  • PCIM Malaysia
  • PCIM Prancis
  • PCIM Amerika Serikat
  • PCIM Jepang
  • PCIM Tunisia
  • PCIM Pakistan
  • PCIM Australia
  • PCIM Rusia
  • PCIM Taiwan
  • PCIM Tunisia
  • PCIM TurkI
  • PCIM Korea Selatan
  • PCIM Tiongkok
  • PCIM Arab Saudi
  • PCIM India
  • PCIM Maroko
  • PCIM Yordania
  • PCIM Yaman
  • PCIM Spanyol
  • PCIM Hongaria
  • PCIM Thailand
  • PCIM Kuwait
  • PCIM New Zealand

Tautan Cepat

  • Profile
  • Publikasi
  • Opini
  • Program Kerja
  • Mitra

Informasi Lainnya

  • Organisasi
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Kontak

Ekosistem

  • Muhammadiyah ID
  • MASA
  • SatuMu
  • EventMu
  • BukuMu
  • SehatMu
  • KaderMu
  • LabMu

Layanan

  • 0821 4350 0108
  • [email protected]
  • Kolom Aduan

Media Sosial

© 2025 Persyarikatan Muhammadiyah

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Profil
  • Publikasi
  • Berita
    • Berita Kegiatan
    • Kabar LKHP
    • Opini
  • Program Kerja
  • Mitra
  • Hutan Wakaf
  • Mitra

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.