Penulis : Muhammad Al-Fatih (Internship)
Yogyakarta, 1 September 2025 – Ratusan elemen masyarakat berkumpul di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menyuarakan aspirasi mereka. Aksi ini merupakan akumulasi kekecewaan publik sekaligus bentuk solidaritas atas peristiwa tragis yang menimpa Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang meninggal dunia setelah diduga sengaja dilindas mobil berlapis baja milik aparat Brimob, serta Rheza Sendy Pratama, mahasiswa Amikom Yogyakarta yang wafat setelah koma akibat dipukul aparat keamanan, dan beberapa korban lainnya. Kejadian ini tidak hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga memicu kemarahan masyarakat yang menuntut keadilan, transparansi, dan akuntabilitas dari pihak berwenang.
Selain di Bundaran UGM, aksi serupa juga berlangsung di kawasan Malioboro yang dipimpin aliansi masyarakat sipil dan komunitas warga. Kedua titik aksi ini memang digelar oleh kelompok yang berbeda, namun sama-sama menyoroti kebijakan pemerintah dan DPR yang tidak sepenuhnya pro terhadap rakyat, brutalitas aparat dan menuntut pertanggungjawaban negara. Di Bundaran UGM, massa yang didominasi mahasiswa menuntut pengusutan tuntas kasus kematian Affan maupun mahasiswa Rheza Sendy Pratama, serta desakan pencopotan Kapolri Listyo Sigit. Mereka juga menolak RUU TNI yang dinilai membuka kembali jalan bagi dwifungsi militer, sekaligus mendorong percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset.

Di sisi lain, aksi massa di Malioboro berlangsung dengan konsentrasi di sepanjang jalan utama hingga depan Gedung DPRD DIY. Aksi ini dipenuhi orasi, spanduk, dan poster yang menegaskan tuntutan penghentian represivitas aparat. Sejumlah orang memadati kawasan tersebut untuk menunjukkan solidaritas terhadap keluarga korban sekaligus menolak segala bentuk kekerasan negara.
Dampak aksi terlihat jelas di jantung kota. Sejumlah toko di Malioboro, termasuk Teras Malioboro dan Plaza Malioboro, memilih menutup operasional sementara sebagai langkah antisipasi potensi kericuhan.
Salah satu peserta aksi di depan DPRD, Zulfikar, menyampaikan, “Alhamdulillah, aksi kemarin berlangsung damai dengan nuansa khas Jogja karena langsung dikawal oleh pasukan inti dari Keraton. Teman-teman HMI merasakan bagaimana aspirasi dapat disampaikan tanpa adanya tindakan anarkis dari massa maupun tindakan represif dari aparat. Semoga suara dan tuntutan yang dibawa benar-benar didengar serta segera direalisasikan oleh para pemangku kebijakan.”
Selain itu komentar serupa juga disampaikan oleh Asghar Maulana salah seorang massa demonstrasi di Bundaran UGM, Asghar menyampaikan “Aksi pada Senin, 1 September 2025, yang saya ikut di Bundaran UGM, tentunya menjadi pembeda dengan aksi-aksi di kota lain. Jogja memilih aksi damai bukan berarti kita takut pada aparat negara, namun kita memilih aksi damai untuk fokus pada tuntutan yang kita bawa bukan hanya sekadar ingin aksi chaos.”
Selain berdampak pada aktivitas di jantung kota, khususnya kawasan Malioboro, Universitas Gadjah Mada juga memutuskan untuk memberlakukan perkuliahan daring pada 1–4 September 2025. Kebijakan ini diambil berdasarkan keputusan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran sebagai langkah menjaga keamanan sivitas akademika. Sementara itu, Pemerintah Kota Yogyakarta mengimbau sekolah tingkat TK hingga SMP untuk membatasi aktivitas luar ruang guna memastikan keselamatan peserta didik di tengah situasi kota yang masih belum sepenuhnya kondusif.
Hingga siang hari, aksi di Bundaran UGM dan Malioboro berlangsung tegang namun relatif terkendali. Dua titik konsentrasi massa ini menegaskan bahwa Yogyakarta kembali menjadi pusat perlawanan terhadap ketidakadilan dan kekerasan aparat. Di tengah sorotan publik nasional, ribuan warga dan mahasiswa menyuarakan desakan agar negara tidak hanya hadir merespons tragedi, tetapi juga menegakkan keadilan serta memastikan peristiwa serupa tidak kembali terulang.


