Sukamto Staf Ahli Gubernur DIY bidang Hukum, Pemerintah, dan Politik menyampaikan materi mendalam mengenai kepemimpinan rendah hati, nilai-nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), serta pendekatan adaptif yang diperlukan dalam menghadapi perubahan sosial dan birokrasi modern pada Jum’at(14/11) di Sekolah Kepemimpinan Nasional (SKN) 2025, yang bertempat di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMPVSB), Sleman, Yogyakarta.
Dalam penjelasannya, Sukamto menyampaikan bahwa kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi, menggerakkan, dan menumbuhkan kapasitas kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga memiliki kedalaman moral dan kepekaan sosial, “Pemimpin itu harus hadir, bukan sekadar terlihat; harus bekerja, bukan hanya berbicara,” tegasnya.
Sukamto juga menegaskan relevansi nilai Hamemayu Hayuning Bawana(menjaga keindahan/kebaikan/kedamaian alam semesta), Sangkan paraning dumadi(asal-usul dan tujuan akhir kehidupan manusia), dan Manunggaling Kawula lan Gusti(bersatunya hamba dengan Tuhan)sebagai prinsip internal kepemimpinan DIY yang menekankan harmoni sosial, tanggung jawab moral, dan orientasi kemaslahatan luas
Lebih lanjut Sukamto menjelaskan pentingnya leading from the ground, yakni model kepemimpinan yang tumbuh dari bawah, mendengarkan aspirasi, dan memberdayakan anggota komunitas. Kepemimpinan adaptif, menurut beliau, menjadi kunci dalam menghadapi situasi yang berubah cepat, karena pemimpin dituntut untuk fleksibel, kreatif, dan berorientasi pada solusi.
Di akhir, sukamto menegaskan mengenai urgensi membangun pemimpin yang berkarakter, berkompeten, dan berkomitmen pada nilai kemanusiaan. Sebagai bentuk refleksi akhir, narasumber menyampaikan kalimat langsung yang menjadi pesan moral bagi seluruh peserta, “Pemimpin yang rendah hati adalah pemimpin yang menguatkan, bukan menaklukkan. Mengajak, bukan memaksa. Melayani, bukan dilayani,” ujarnya di akhir.


